Selasa 23-Sep-2025 20:56 WIB
Foto : tribunnews
Brominemedia.com – Kepala Regional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menegaskan pihaknya memperketat pengawasan kualitas makanan yang dikirim ke sekolah-sekolah.
Salah satu aturan yang diterapkan adalah mewajibkan guru mencicipi sampel makanan lebih dulu sebelum didistribusikan kepada siswa.
“Kalau guru mengatakan makanan masih segar dan layak, baru boleh diturunkan dari kendaraan. Kalau sudah kurang bagus, jangan pernah diturunkan. Itu perintahnya,” tegas Agus, Selasa 23 September 2025.
Menurut Agus, langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kasus keracunan atau temuan makanan basi yang sempat terjadi di sejumlah daerah lain.
“Kalau untuk keracunan, sejauh ini di Kalbar belum ada. Tapi kalau makanan basi, pernah ada satu dua kasus dari sekian banyak sekolah. Itu pun langsung ditangani,” jelasnya.
Agus juga meluruskan isu terkait anggaran MBG. Ia menyebut pagu anggaran berbeda sesuai jenjang pendidikan. Untuk TK hingga kelas 3 SD, dana bahan baku Rp8.000 per porsi, sementara kelas 4 SD hingga SMA Rp10.000. Tambahan Rp5.000 dipakai untuk operasional dan sewa tempat. Dimana Rp3.000 untuk operasional, termasuk gaji relawan, gas, listrik, dan transportasi dan Rp2.000 untuk sewa tempat mitra.
“Jadi angka Rp15.000 itu rinciannya jelas,” paparnya.
Hingga kini, sudah ada 208 Satuan Penyedia Program Gizi (SPPG) di Kalbar, dengan sekitar 180 di antaranya aktif beroperasi. Beberapa dapur bahkan sudah ditutup karena terbukti melakukan pelanggaran.
“Ada dapur yang ketahuan mark up harga, dan itu langsung kami tutup. Kalau perlu, mitra atau yayasan juga bisa diganti,” tegas Agus.
Selain menjaga kualitas makanan, MBG Kalbar juga berupaya menstabilkan harga bahan baku. Agus menyebut pihaknya sedang menunggu kerja sama dengan Koperasi Merah Putih agar petani lokal bisa menjual hasil panennya langsung ke koperasi, dan SPPG membeli sesuai harga acuan Bappenas.
“Harapannya, ini bisa menekan laju inflasi. Karena sekarang harga ayam dan beberapa bahan pokok sudah melonjak, jadi kepala SPPG dituntut aktif mengecek harga pasar setiap hari,” katanya.
Agus menegaskan, seluruh kabupaten di Kalbar saat ini sudah menikmati program MBG. Namun, untuk memenuhi kebutuhan hingga ke wilayah 3T, Kalbar masih membutuhkan sekitar 580 SPPG.
Ia pun mengajak semua pihak untuk ikut mengawasi jalannya program ini.
“Kalau ada masalah, laporkan langsung. Kami butuh kritik dan masukan dari semua pihak untuk penyempurnaan MBG di Kalbar,” pungkasnya.
Konten Terkait
TREND
Petani Milenial Bersyukur Jadi Pemasok Sayur MBG
Sudah tiga tahun Aditya Dwi Saputra merintis pertanian hidroponik di kampungnya. Selama ini, hanya sekitar 7 hingga 8 kilogram selada yang diproduksinya dalam setiap kali panen.
Namun sejak diminta menjadi pemasok sayuran ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), omzetnya meningkat 100 persen.
Senin 22-Dec-2025 20:19 WIB