Selasa 13-Jan-2026 20:05 WIB
Foto : tribunnews
Brominemedia.com - Puluhan rumah warga di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan terdampak banjir akibat tingginya curah hujan dan luapan Sungai Rutas.
Camat Tapin Tengah, Hamzah Assegaf, mengatakan banjir telah merendam sekitar 30 hingga 50 rumah, khususnya di RT 3 dan RT 4 Desa Hiyung.
“Air sudah masuk ke dalam rumah warga, bahkan sampai ke dapur. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar lima hingga enam hari terakhir,” ujarnya usai melakukan pemantauan langsung ke lokasi, Selasa (13/1/2026).
Menurut Hamzah, wilayah yang terdampak merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan Sungai Rutas dan memang hampir setiap tahun mengalami genangan saat musim hujan. Namun, banjir kali ini tergolong lebih besar dari biasanya.
“Biasanya hanya di bagian belakang rumah saja yang terendam, tapi sekarang sudah sampai ke bagian depan. Ini dipicu curah hujan tinggi beberapa hari berturut-turut, hujannya deras tanpa jeda,” jelasnya.
Ia menambahkan, mayoritas rumah yang terdampak dihuni oleh warga lanjut usia, sehingga pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan.
“Alhamdulillah, bantuan cepat datang. BPBD dan Dinas Sosial sudah menyalurkan bantuan, sementara Puskesmas memberikan pelayanan kesehatan dan obat-obatan, terutama untuk keluhan gatal dan luka di kaki akibat genangan air,” katanya.
Hamzah juga menyebutkan, hingga saat ini belum ada laporan warga yang mengungsi, meski sebagian rumah terendam cukup lama.
“Kondisinya masih bisa bertahan di rumah masing-masing. Hari ini air sudah mulai surut seiring cuaca yang cerah dan kondisi sungai yang mulai normal,” tambahnya.
Selain permukiman, banjir juga berdampak pada lahan pertanian cabai yang menjadi salah satu sentra produksi di Desa Hiyung.
“Beberapa lahan cabai terdampak, meski sebagian petani sudah menggunakan sistem galangan. Namun tetap ada yang terendam,” ungkap Hamzah.
Ia berharap, kedepan perlu perhatian serius terkait daerah resapan air yang semakin berkurang akibat peninggian jalan dan pembangunan permukiman.
“Mudah-mudahan air benar-benar surut dan warga bisa kembali beraktivitas normal,” pungkasnya.
Raih Predikat Desa Pro Iklim Lestari 2025, Kades Hiyung Curhat Dampak Banjir dan Karhutla
Sementara, Di balik kebanggaan meraih penghargaan Desa Pro Iklim Lestari 2025 dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, masih dihadapkan pada persoalan lingkungan yang berat, mulai dari kebakaran lahan saat kemarau hingga banjir yang merendam permukiman dan kebun cabai warga.
Kepala Desa Hiyung, Rahim, mengungkapkan perasaan bangga sekaligus sedih melihat kondisi desanya yang kerap terdampak bencana alam akibat perubahan iklim.
“Di satu sisi ulun bangga, desa ulun bisa meraih penghargaan sebagai Desa Pro Iklim Lestari,” ujar Rahim, Selasa (13/1/2025).
Namun di sisi lain, ia mengaku prihatin karena setiap musim kemarau wilayah desanya rawan kebakaran lahan yang menghanguskan area perkebunan warga.
“Musim kemarau, kebakaran lahan menghabiskan kebun warga. Begitu musim banjir, rumah-rumah kebanjiran, kebun tenggelam,” katanya.
Tak hanya merugikan secara ekonomi, banjir juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti lansia, perempuan, dan anak-anak.
“Warga lansia, perempuan, dan anak-anak banyak terserang penyakit kulit, terutama di bagian kaki karena terlalu lama terendam air,” ungkap Rahim.
Rahim berharap ada perhatian berkelanjutan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait, tidak hanya dalam bentuk penghargaan, tetapi juga dukungan nyata untuk mitigasi bencana dan penanganan dampak kesehatan masyarakat.
“Penghargaan ini jadi penyemangat, tapi yang paling penting bagaimana warga kami bisa lebih aman dan sehat menghadapi perubahan iklim,” pungkasnya. (Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)
Konten Terkait