Kamis 08-Jan-2026 01:07 WIB
Foto : wartakota
Brominemedia.com - Hasil imbang Manchester United saat bertandang ke markas Leeds United pada pekan ke-20 Liga Inggris 2025/2026 menjadi penanda akhir perjalanan Ruben Amorim bersama Setan Merah.
Secara tidak langsung, bek Leeds United berdarah Indonesia, Pascal Struijk, ikut berperan dalam laga yang berujung pada pemecatan sang pelatih.
Bermain di Elland Road, Minggu (4/1/2026), Manchester United yang diunggulkan gagal meraih kemenangan dan harus puas dengan skor 1-1.
Hasil itu disebut-sebut menjadi salah satu penyebab Amorim dipecat petinggi dan manajemen Manchester United.
Karenanya laga tersebut menjadi pertandingan terakhir Amorim sebelum manajemen klub mengumumkan pemecatannya sehari kemudian.
Pascal Struijk tampil menonjol dalam laga tersebut.
Bek berusia 26 tahun itu tidak hanya solid mengawal lini pertahanan Leeds, tetapi juga berkontribusi langsung dalam proses terciptanya gol pembuka.
Pada menit ke-62, Struijk melakukan intersep krusial atas umpan Diogo Dalot yang mengarah ke Joshua Zirkzee.
Bola sapuannya justru berubah menjadi umpan akurat ke lini depan.
Brenden Aaronson yang menerima bola kemudian berlari melewati Ayden Heaven, masuk ke kotak penalti, dan melepaskan tembakan yang gagal dihalau Lisandro Martinez.
Gol tersebut membawa Leeds unggul lebih dulu.
Manchester United sempat menyamakan kedudukan tiga menit berselang melalui gol Matheus Cunha.
Namun, setelah itu tim tamu gagal menciptakan gol tambahan hingga laga berakhir.
Penampilan konsisten Struijk membuatnya mendapat pujian dari berbagai media.
Daily Mail memberinya nilai 7,5, sementara Flashscore menilai performanya lebih tinggi dengan skor 8,1.
Ia dinobatkan sebagai salah satu pemain terbaik di lapangan berkat kontribusinya di lini belakang sekaligus perannya dalam transisi menyerang.
Kegagalan MU meraih kemenangan di Elland Road menjadi momentum krusial bagi manajemen Manchester United.
Pada Senin (5/1/2026), klub secara resmi mengumumkan pemecatan Ruben Amorim.
Informasi tersebut pertama kali disampaikan pakar transfer Fabrizio Romano.
Dalam pernyataan resmi klub disebutkan bahwa keputusan diambil demi memberi peluang terbaik bagi United untuk finis setinggi mungkin di klasemen Premier League.
Saat itu, Manchester United berada di peringkat keenam.
“Ruben Amorim telah meninggalkan tugasnya sebagai pelatih kepala Manchester United. Klub berterima kasih atas kontribusinya dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya,” demikian pernyataan klub.
Untuk sementara, Darren Fletcher ditunjuk menangani tim saat menghadapi Burnley, Kamis (8/1/2026) dinihari WIB.
Sementara itu, bagi Pascal Struijk, performa apik melawan United semakin menegaskan posisinya sebagai pemain kunci Leeds United.
Pemain kelahiran Belgia yang memiliki darah Indonesia dari garis ibu itu kini memasuki musim ketujuh bersama tim senior Leeds.
Struijk sempat diprediksi tersisih setelah Leeds mendatangkan Jaka Bijol pada bursa transfer musim panas.
Namun, pelatih Daniel Farke justru memaksimalkan perannya dalam skema tiga bek tengah sebagai bek kiri-sentral, sementara Bijol bermain di tengah.
Di luar lapangan, nama Struijk juga kerap dikaitkan dengan peluang naturalisasi untuk tim nasional Indonesia.
Meski demikian, hingga kini ia masih memprioritaskan ambisi menembus timnas Belanda, setelah sebelumnya hanya tampil di level U-17.
Penampilan impresifnya di Elland Road bukan hanya berdampak bagi Leeds United, tetapi juga menjadi salah satu momen yang menutup kiprah Ruben Amorim di Manchester United.
Struijk menyampaikan bahwa kakek dan neneknya berasal dari Surabaya dan sempat tinggal di Hindia Belanda sebelum pindah ke Negeri Kincir Angin.
Hal itu dikatakannya dalam wawancara dengan media Belanda, Sport Magazine pada 2020 silam.
Karenanya Struijk mengaku dirinya memiliki rasa kedekatan emosional dengan Indonesia.
Meski ia tak banyak berinteraksi langsung dengan masyarakat di Tanah Air, identitas Indonesia tetap melekat dalam kehidupannya.
“Saya memiliki koneksi dengan Indonesia melalui kakek dan nenek saya, yang meninggalkan Hindia Belanda ke Belanda,” kata Struijk kala itu.
“Saya harus mengaku terkadang saya merasa seperti orang Indonesia dan terkadang tidak. Tapi di luar keluarga saya, saya tak banyak berkomunikasi dengan orang di sana,” tambah Struijk.
Konten Terkait