Jumat 09-Jan-2026 19:59 WIB
Foto : tribunnews
Brominemedia.com - Rombongan relawan gabungan dari Fesbuk Banten News, Forum Potensi SAR Banten, Aksi Semangat Peduli, dan Petualang Rescue berangkat dari Kota Serang, Banten, pada Selasa (6/1/2026).
Mereka ingin menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Aceh Tamiang, termasuk kegiatan bersih-bersih masjid, trauma healing bagi anak-anak korban bencana, serta penyaluran 1.250 Al-Qur’an dan Iqra, 1.000 mukena, 1.000 sajadah, 1.000 peci, 1.000 baju koko, dan 10 rol karpet.
Namun, pada Rabu (7/1/2026) perjalanan mereka terganggu saat rombongan tiba di Kota Palembang.
Kendaraan minibus jenis Elf yang mereka bawa dihentikan secara mendadak di depan Terminal Karya Jaya, Kecamatan Kertapati, oleh oknum petugas Dishub Kota Palembang.
Pengemudi kendaraan, Rizki Nur Habibi, menjelaskan petugas menanyakan kelengkapan surat kendaraan.
SIM dan STNK ditunjukkan, tetapi dokumen KIR fisik tertinggal. Rizki pun menjelaskan tujuan kemanusiaan mereka ke Aceh.
“Kami sudah jelaskan maksud dan tujuan kami ke Aceh. Semua surat sebenarnya ada, hanya KIR fisik yang tidak ada. Tapi tetap dipersulit,” ujar Rizki dalam keterangan yang diterima TribunBanten.com, Jumat (9/1/2026).
Tak lama kemudian, situasi memanas ketika petugas mengeluarkan pernyataan yang dianggap bernada ancaman. Rizki menilai ucapan tersebut membuat rombongan terintimidasi.
“Dia bilang, ‘perjalanan masih jauh, mau aman enggak?’ Ngomongnya begitu,” ungkapnya.
Tekanan tidak hanya dirasakan Rizki sendiri. Salah satu rekannya sempat dikerumuni oleh beberapa orang di lokasi.
Rizki kemudian maju untuk menghadapi oknum petugas. Namun, negosiasi yang berlangsung lama tidak membuahkan hasil.
“Teman saya juga dikerumuni oleh tiga orang. Akhirnya saya yang menghadap, saya ditarik ke seberang ke posnya, ngobrol dan negosiasi lama, tapi tetap tidak mau melepas kami,” katanya.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan memastikan bantuan sampai ke Aceh, rombongan akhirnya menyerahkan uang Rp100 ribu sesuai permintaan oknum petugas.
“Oknum minta uang Rp150 ribu, kami cuma mampu ngasih Rp50 ribu, tapi petugas tidak mau karena terlalu sedikit. Kami memilih mengalah dan memberikan uang Rp100 ribu. Kami cuma ingin saat itu bagaimana bantuan ini bisa sampai ke Aceh dengan selamat,” jelas Rizki.
Ia juga menceritakan bahwa sejumlah kendaraan besar lain diberhentikan di lokasi yang sama.
Sebelumnya, kendaraan mereka sempat mengalami pecah ban saat melintas di jalan tol sebelum memasuki wilayah Kota Palembang.
Rizki menegaskan pengalaman pahit ini bukan soal nominal uang, melainkan soal kemanusiaan.
“Ini bukan soal nominal uangnya, tapi soal kemanusiaan. Di saat Aceh membutuhkan uluran tangan, perjalanan bantuan justru dihadang dengan cara seperti ini,” tegasnya.
Konten Terkait