Senin 05-Jan-2026 20:09 WIB
Foto : tribunnews
Brominemedia.com - Komika Pandji Pragiwaksono menuai perhatian luas dari publik setelah meroasting fisik Wakil Presiden Gibran.
Mulanya Pandji menyinggung perihal kondisi fisik mata Gibran.
Menurutnya, mantan Wali Kota Solo itu selalu terlihat mengantuk di berbagai kesempatan.
"Atau wakil presidennya. 'Gibran ngantuk ya'," ucap Pandji disambut gelak tawa para penonton.
"Ya kaya orang ngantuk dia ya. Menurut keyakinan saya," timpalnya.
Seketika ucapan Pandji tersebut menuai beragam kontroversi.
Kali ini, kritik disampaikan oleh pakar pendidikan Ina Liem dan musisi sekaligus dokter, Tompi.
Keduanya menilai ada candaan dalam pertunjukan tersebut yang mengarah pada penghinaan fisik.
Candaan yang dinilai mengandung unsur body shaming itu dianggap berpotensi melukai banyak pihak.
Ina Liem mengungkapkan rasa prihatin terhadap tren komedi yang kerap merendahkan fisik orang lain.
Menurutnya, humor semacam itu semakin sering dijadikan bahan lelucon publik.
Padahal, dampak dari candaan tersebut bisa sangat serius, terutama bagi korban.
"Coba deh berhenti sejenak, bayangkan wajah anak-anak kalian sendiri, orang tua kalian dipakai sebagai bahan candaan publik, masih bisa ketawa enggak? Pantas enggak?" kata Ina Liem seperti dikutip dari Instagram Ina Liem pada Senin (5/1/2025).
Ia menegaskan bahwa humor tetap harus memiliki batas yang jelas.
Bagi Ina, batas tersebut berkaitan langsung dengan nilai moral dan kemanusiaan.
Ia menyebut bahwa menghina fisik seseorang tidak bisa dibenarkan atas nama selera humor.
"Menghina tampang manusia itu bukan masalah selera humor. itu menghina karya tuhan, yang kalian tertawakan itu karya ciptaan tuhan. Bawaan yang tidak bisa diubah," katanya.
Ina Liem juga menyoroti peran besar figur publik dalam membentuk pola pikir masyarakat.
Menurutnya, ucapan public figure sangat mudah dianggap wajar dan ditiru oleh publik.
Dalam konteks ini, ia turut menyinggung pandangan dr Tompi.
"Dr Tompi mungkin bisa (mengubah fisik). Tapi justru beliau sendiri ikut menyampaikan keprihatinan dan menegaskan itu bukan kritik yang cerdas," jelasnya.
Ia pun menegaskan bahwa stand up comedy sebagai karya seni seharusnya tetap menjunjung tanggung jawab moral.
Sejalan dengan Ina Liem, dr Tompi juga menyampaikan pandangan kritisnya.
Salah satu bit komedi Pandji di Netflix yang menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka jadi persoalan.
Tompi menilai, menertawakan kondisi mata Gibran yang tampak sayu adalah bentuk ketidaktahuan terhadap kondisi medis serius yang disebut Ptosis.
Ia menegaskan bahwa menertawakan kondisi fisik seseorang apapun konteksnya, bukan lah bentuk kritik yang cerdas.
"Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas. Apa yang terlihat "mengantuk" pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON," kata Tompi.
Menurutnya, kritik, satire dan humor tetap sah dalam ruang publik.
Namun, merendahkan kondisi tubuh seseorang justru bukan sebuah lelucon yang cerdas.
"Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir. Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya," katanya.
Kendati demikian, Tompi tetap mengapresiasi keseluruhan materi lawakan Pandji di Mens Rea.
Ia menyebut telah menonton special show tersebut di platform digital dan menilai banyak materi yang berbobot.
"Btw sy nonton shownya di Netflix, keren kok materinya. BANYAK BENERnya," pungkasnya.
Konten Terkait