Satpam Sujud Syukur Diangkat Jadi PPPK Paruh Waktu usai 34 Tahun Mengabdi, Dapat Hadiah Umrah Gratis
Jumat 02-Jan-2026 20:09 WIB
2
Foto : tribunnews
Brominemedia.com - Kebahagiaan dirasakan Munahir (56), seorang satpam di Nusa Tenggara Barat (NTB) diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu setelah 34 tahun mengabdi.
Munahir bekerja sebagai satpam di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Dompu, NTB.
Ia menangis dan sujud syukur di hadapan Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal usai diberi hadiah umrah gratis tak lama menerima SK pengangkatan PPPK paruh waktu.
Aba Nai, sapaan akrab Munahir menerima SK pengangkatan bersama bersama 9.410 orang pegawai di halaman Kantor Gubernur NTB, pada Selasa (23/12/2025).
Di momen penting tersebut, hal tak terduga terjadi berkat pengabdian panjangnya.
Sujud Syukur Dapat Hadiah Umrah Gratis
Dia tidak saja menerima SK PPPK Paruh Waktu, tetapi juga mendapat hadiah umrah gratis dari Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal.
"Saat itu, saya langsung menangis dan sujud syukur di depan Pak Gubernur," kata Munahir saat ditemui di SMKN 1 Dompu, Selasa (30/12/2025), dikutip dari Kompas.com.
Munahir mengaku terkejut lantaran saat berada di tengah barisan para pegawai, dirinya tiba-tiba ditunjuk, lalu diminta maju dan naik ke podium oleh Muhammad Iqbal.
Saat itu, ia ditanya apakah pernah melaksanakan umrah.
Seketika langsung dijawabnya belum pernah, bahkan dijelaskan bahwa ini merupakan kali pertama dirinya menginjakkan kaki di Kantor Gubernur NTB dan berhadapan langsung dengan Gubernur NTB.
"Pak Gubernur terharu dan langsung mengatakan saya umrahkan Bapak Januari. Dia juga berterima kasih atas pengabdian panjang saya di sekolah," ulasnya.
Pengabdian Panjang
Munahir mengawali pengabdiannya sebagai petugas jaga malam sejak 1990, saat itu SMKN 1 Dompu masih berstatus Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA).
Setelah lima tahun mengabdi, Munahir kemudian diangkat sebagai satpam mengingat kebutuhan sekolah.
Selama bertugas, ia mengaku tidak memandang besar atau kecilnya gaji yang diterima dari sekolah.
Terpenting bagi pria yang lahir di Lingkungan Mada Kimbi, Kelurahan Kandai 1, Kecamatan Dompu ini, ia bisa tetap bekerja dan memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Saya tidak pandang besar kecilnya gaji, saya ikhlas bekerja untuk sekolah ini," ujarnya.
Munahir mengungkapkan, 34 tahun bertugas bukanlah waktu yang singkat, ada banyak suka dan duka yang telah dilaluinya.
Dalam situasi dan kondisi tertentu, ia bahkan kerap memanfaatkan waktu luangnya untuk kerja serabutan demi menambah penghasilannya.
Buah dari perjuangannya itu, dua anaknya telah lulus pendidikan tinggi, dan kini menjadi guru di Bima dan Dompu.
"Satu orang masih sekolah di SMK Pariwisata, dan satu orang lagi sudah meninggal dunia," ungkapnya.
Ikhlas Gaji Turun Setelah Pengangkatan
Munahir mengungkapkan, sebelumnya dia pernah mengikuti seleksi CPNS Kategori II (K2), namun saat itu tidak lulus lantaran tidak mengantongi SK Bupati Dompu.
Pada akhir 2024, Munahir lantas ikut seleksi PPPK Penuh Waktu, hanya saja kembali gagal, dan untungnya masih bisa diakomodir melalui skema PPPK Paruh Waktu.
Sebelum diangkat sebagai PPPK Paruh Waktu, lanjut dia, ia biasa menerima gaji per bulan dari pihak sekolah sebesar Rp1,8 juta.
Namun, setelah pengangkatan ini besaran gaji yang akan diterima dari Pemprov NTB turun drastis, yakni Rp500.000 per bulan.
Meskipun demikian, dia mengaku tetap bersyukur dan ikhlas melaksanakan tugasnya.
"Kita tetap ikhlas dan tugas-tugas pokok dari sekolah tetap saya laksanakan, mudah-mudahan nanti ada kebijakan diangkat PPPK Penuh Waktu," harapnya.
Penghargaan tertinggi ini diberikan kepada desa-desa yang sukses menyajikan pengalaman autentik sekaligus mendorong pemerataan ekonomi di tingkat lokal.