Arus Balik Long Weekend di Garut Terpantau Padat, Polisi Sudah 7 Kali Berlakukan Sistem One Way
Minggu 07-Sep-2025 20:52 WIB
467
Foto : tribunnews
Brominemedia.com – Arus balik libur panjang di Kabupaten Garut, Jawa Barat terpantau padat pada Minggu (7/9/2025) petang.
Kepolisian mencatat sudah tujuh kali melakukan rekayasa lalu lintas sistem satu arah (one way) di jalur menuju Bandung dari arah Tasikmalaya maupun dari arah Garut Kota.
Kasatlantas Polres Garut, Iptu Aang Andi Suhandi, mengatakan volume kendaraan meningkat signifikan terutama di jalur Leles, Kadungora, hingga Limbangan.
Menurutnya, penerapan one way dilakukan untuk mengurai kepadatan sekaligus mempercepat arus kendaraan yang mengarah ke luar Garut.
"Memang terjadi peningkatan di puncak arus balik long weekend kali ini, kami sudah melakukan rekayasa lalin di dua tempat hingga 7 kali sampai petang ini," ujarnya kepada Tribunjabar.id.
Ia menuturkan, lonjakan kendaraan didominasi mobil pribadi dan bus pariwisata. Polisi juga menyiagakan personel di sejumlah persimpangan rawan macet seperti Tarogong, Tanjung, dan Nagreg.
Meski padat, arus lalu lintas disebut masih terkendali. Polisi mengimbau pengendara tetap sabar, mematuhi arahan petugas, dan menjaga kondisi kendaraan agar perjalanan aman.
"Kepadatan terjadi dari arah tempat wisata, sampai petang ini semuanya aman terkendali," ungkapnya.
Iptu Aang menjelaskan, di jalanan sejumlah truk atau kendaraan besar masih terlihat beroperasi meskipun sudah ada pembatas jam jalan.
Pihaknya terpaksa menghentikan sementara kendaraan tersebut hingga boleh melakukan perjalanan kembali nanti malam pukul 21.00 WIB.
"Kita terpaksa hentikan dulu, karena sesuai aturan bupati di setiap hari libur Sabtu Minggu jam operasional kendaraan besar mulai pukul 12.00 hingga 21.00 tidak boleh beroperasi dulu," katanya.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mengeklaim belum menemukan adanya kasus Superflu di ibu kota. Meski begitu, warga Jakarta tetap diminta waspada terkait penyebaran penyakit yang disebabkan virus Influenza...
Sudah tiga tahun Aditya Dwi Saputra merintis pertanian hidroponik di kampungnya. Selama ini, hanya sekitar 7 hingga 8 kilogram selada yang diproduksinya dalam setiap kali panen.
Namun sejak diminta menjadi pemasok sayuran ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), omzetnya meningkat 100 persen.