Foto : tribunnews
Dari situ ia mengabdi di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah.
Medio akhir 1945, Bote pulang ke Manado. Rupanya ia punya rencana melanjutkan studi.
"Kakak paling tua Jotje menyuratinya. Kalau mau lanjut sekolah, cuma dua. Ke Jakarta atau Makassar," kata Robby, pensiunan tentara berpangkat Letkol.
Bote minta izin ke papanya dan keluarga. Bertekad sekolah teknik.
Kata Robby, Bote bilang di masa perang, pabrik memproduksi senjata.
Sementara aman perang, pabrik tetap berproduksi untuk peralatan lainnya.
"Itu tak lama setelah Proklamasi. Maka berangkatlah ia ke Makassar," kata Robby yang sudah berusia 88 tahun melanjutkan.
Di Makassar, gejolak perang begitu terasa. Belanda dengan wujud NICA (Netherlands Indies Civic Administration) datang kembali.
Darah muda Wolter Monginsisi mendidih.
Ia turut membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 17 Juli 1946.
Bersama LAPRIS, Bote melancarkan perlawanan terbuka kepada Belanda yang hendak menancapkan kembali kuku kolonialismenya di Bumi Pertiwi.
Kelihaian dan keberaniannya di usia yang masih belia, membuat dirinya dihormati dan dapat menjadi salah satu pimpinan LAPRIS.
Ia kerap melakukan penyerbuan ke markas/tangsi militer Belanda dan pasukannya sering terlibat kontak senjata dengan Belanda.
Belanda mengerahkan kekuatan terbaik untuk menangkap Bote.
Hingga akhirnya ia tertangkap pada 28 Februari 1947 dan dijatuhi hukuman mati.
Konten Terkait
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mengeklaim belum menemukan adanya kasus Superflu di ibu kota. Meski begitu, warga Jakarta tetap diminta waspada terkait penyebaran penyakit yang disebabkan virus Influenza...
Minggu 04-Jan-2026 20:17 WIB
Percikan api dari kabel instalasi listrik di atap Kanopi Jalur VIII Stasiun Bogor, Jawa Barat.
Minggu 04-Jan-2026 20:12 WIB
Sejumlah ASN Pemkot Manado di garda terdepan siap melayani masyarakat di waktu liburan tahun baru.
Minggu 28-Dec-2025 20:04 WIB
Komisi Yudisial merekomendasikan sanksi nonpalu bagi majelis hakim perkara Tom Lembong terkait pelanggaran kode etik.
Jumat 26-Dec-2025 20:17 WIB
Sudah tiga tahun Aditya Dwi Saputra merintis pertanian hidroponik di kampungnya. Selama ini, hanya sekitar 7 hingga 8 kilogram selada yang diproduksinya dalam setiap kali panen. Namun sejak diminta menjadi pemasok sayuran ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), omzetnya meningkat 100 persen.
Senin 22-Dec-2025 20:19 WIB