Bromine Media merupakan media online yang menyajikan ragam informasi dan berita di ranah lokal Wonogiri hingga nasional untuk masyarakat umum. Bromine Media bertempat di Brubuh, Ngadirojo Lor, Ngadirojo, Wonogiri, Jawa Tengah.

All Nasional Internasional

PERISTIWA

Ibu Penjual Tisu di Lampu Merah Bengkulu, Potret Kehidupan Orang Pinggiran dan Harapan Perubahan

Minggu 18-May-2025 21:15 WIB

265

Ibu Penjual Tisu di Lampu Merah Bengkulu, Potret Kehidupan Orang Pinggiran dan Harapan Perubahan

Foto : tribunnews

Brominemedia.com – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kota, sosok ibu penjual tisu di lampu merah menjadi gambaran nyata kehidupan mereka yang berada di pinggiran sistem sosial. 

Dengan caping melindungi kepala dari terik matahari, ia berdiri tegak di tengah lalu lalang kendaraan, menawarkan tisu penuh harap.  

Potret ini bukan sekadar pemandangan jalanan biasa, melainkan cerminan nyata ketimpangan ekonomi dan sosial yang masih mencolok di Provinsi Bengkulu.  

Data statistik Profil Kemiskinan Provinsi Bengkulu September 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS)  menunjukkan persentase penduduk miskin sebesar 12,52 persen, atau sekitar 261.15 ribu jiwa.  

Angka ini, meskipun mengalami penurunan dibanding Maret 2024, tetap menggambarkan realita kemiskinan yang masih signifikan. Garis kemiskinan di Provinsi Bengkulu tercatat sebesar Rp672.816 per kapita per bulan.  Artinya,  individu yang memiliki pengeluaran di bawah angka tersebut dikategorikan sebagai penduduk miskin.  

Lebih lanjut, indeks kedalaman kemiskinan (P1) sebesar 1,84 dan indeks keparahan kemiskinan (P2) sebesar 0,37 menunjukkan bahwa kemiskinan di Bengkulu masih cukup dalam dan perlu penanganan serius.  

Angka-angka ini menggarisbawahi betapa besarnya tantangan yang dihadapi oleh mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, termasuk ibu penjual tisu ini.

Latar belakang sosial ibu-ibu seperti ini kerap penuh perjuangan. Mereka adalah bagian dari masyarakat marjinal yang hidup dengan penghasilan tidak menentu. 

Di balik setiap lembar tisu yang dijajakan, tersimpan cerita tentang beban keluarga, kebutuhan hidup, dan semangat untuk tetap bertahan. Ini bukan sekadar berdagang, melainkan perjuangan untuk tetap hidup.

Kisah hidup ibu penjual tisu bukan hanya tentang kemiskinan, tetapi juga tentang ketabahan.  Di persimpangan jalan, mereka menghadapi risiko kecelakaan, stigma sosial, dan bahkan pengusiran oleh aparat. Namun, mereka tetap hadir setiap hari karena tak ada pilihan lain. Kehidupan mereka adalah perjuangan tanpa sorotan, namun sangat nyata. 

Media memiliki peran penting dalam mengangkat kisah-kisah seperti ini. Peran media seharusnya mendorong empati publik, menyentuh nurani para pembuat kebijakan, dan mendorong perubahan sistemik.  

Dengan liputan mendalam yang humanis dan menyuarakan ketidakadilan struktural, media dapat menjadi jembatan antara mereka yang terpinggirkan dan mereka yang berkuasa untuk mengubah keadaan.

Kehidupan ibu penjual tisu juga menyoroti tantangan besar seperti stigma sosial dan keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan formal. 

Namun, di balik tantangan itu, selalu ada harapan. Harapan akan adanya program pemberdayaan yang tepat sasaran. Harapan akan kebijakan inklusif yang menciptakan ruang yang lebih adil, di mana setiap warga terlepas dari status ekonominya memiliki peluang untuk hidup layak dan bermartabat.

Perubahan tidak akan datang hanya dari belas kasih individu. Diperlukan aksi kolektif dan dukungan dari semua lapisan masyarakat: pemerintah, organisasi sosial, media, dan kita sebagai warga biasa. Kolaborasi nyata untuk mengubah struktur sosial yang timpang menjadi sebuah keharusan moral.

Refleksi dari kisah ibu penjual tisu ini harus menjadi ajakan untuk merenungkan siapa yang sebenarnya dilayani oleh pembangunan. 

Jika pembangunan hanya melayani mereka yang sudah sejahtera, lalu untuk siapa negara ini berdiri? Setiap orang, termasuk mereka yang berdiri di bawah terik matahari di lampu merah, berhak untuk diperjuangkan.

Akhirnya, potret ibu penjual tisu ini bukan hanya tentang kemiskinan, tetapi tentang ketidakadilan. Selama kita membiarkan ketidakadilan itu terjadi, kita turut berkontribusi pada ketimpangan. 

Sudah saatnya menyuarakan perubahan nyata perubahan struktural yang menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya di Provinsi Bengkulu.

Share:

Konten Terkait

PEMERINTAHAN UMP Bengkulu 2026 Resmi Naik 5,89 Persen, Serikat Pekerja Nilai Belum Ideal

Kenaikan UMP Bengkulu 2026 sebesar 5,89 persen, SPSI mengungkapkan kenaikan itu belum ideal.

Kamis 25-Dec-2025 20:30 WIB

UMP Bengkulu 2026 Resmi Naik 5,89 Persen, Serikat Pekerja Nilai Belum Ideal
RAGAM BREAKING NEWS Gubernur Sumbar Tetapkan UMP 2026 Rp3.182.955., Naik 6,3 Persen

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) resmi menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumbar Tahun 2026

Senin 22-Dec-2025 20:14 WIB

BREAKING NEWS Gubernur Sumbar Tetapkan UMP 2026 Rp3.182.955., Naik 6,3 Persen
PERISTIWA Rejang Lebong Bengkulu Dikepung Banjir Usai Diguyur Hujan Deras, Jalan di Kesambe Baru Amblas

Hujan deras mengguyur Rejang Lebong sejak siang hingga sore Minggu (21/12/2025), sejumlah wilayah terendam banjir dan terjadi longsor.

Minggu 21-Dec-2025 20:07 WIB

Rejang Lebong Bengkulu Dikepung Banjir Usai Diguyur Hujan Deras, Jalan di Kesambe Baru Amblas
PERISTIWA PT KRU Bengkulu Tengah Klarifikasi Soal Isu Penolakan Masyarakat

Gm Pt Kharisma Eka mengklarifikasi terkait penolakan keberadaan perusahaan tambang batu bara di Bengkulu Tengah pada pada Jumat (19/12/2025)

Jumat 19-Dec-2025 20:16 WIB

PT KRU Bengkulu Tengah Klarifikasi Soal Isu Penolakan Masyarakat
PEMERINTAHAN SPPG Bhayangkari di Bengkulu Selatan Resmi Beroperasi, Salurkan MBG untuk 981 Penerima Manfaat

Polres Bengkulu Selatan resmi melaunching Dapur Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) Yasasan Kemala Bhayangkari

Senin 08-Dec-2025 20:14 WIB

SPPG Bhayangkari di Bengkulu Selatan Resmi Beroperasi, Salurkan MBG untuk 981 Penerima Manfaat

Tulis Komentar