TREND

Petani Milenial Bersyukur Jadi Pemasok Sayur MBG

Senin 22-Dec-2025 20:19 WIB 92

Foto : republikain

Brominemedia.com - Sudah tiga tahun Aditya Dwi Saputra merintis pertanian hidroponik di kampungnya. Selama ini, hanya sekitar 7 hingga 8 kilogram selada yang diproduksinya dalam setiap kali panen.

Namun sejak diminta menjadi pemasok sayuran ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), omzetnya meningkat 100 persen.

“Saya bekerja sama dengan dua dapur SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi). Jika selama ini saya hanya bisa panen 7 sampai 8 kilogram, sekarang setiap hari saya bisa memasok 15 kg selada hidroponik per dapur,” kata Aditya, saat ditemui di kebun hidroponiknya, di Dusun Baliboto, Desa Pucang Anom, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

Aditya mengaku usaha pertanian hidroponiknya sangat terbantu setelah menjadi pemasok sayuran program MBG. Sebab, selama ini dia sering kebingungan saat menjual produk sayurnya. Karena mengandalkan kualitas, selada produksinya dijual dengan harga Rp 20 ribu per kilogram, jadi lebih tinggi dari harga pasar.

“Dengan bekerja sama dengan SPPG kami mendapatkan keutungan yang pasti,” ujarnya

Karena omzet meningkat, Aditya mulai memikirkan perluasan kebun hidroponiknya, untuk meningkatkan produksi. Apalagi, pesanan sayuran kini tak hanya dari lokal Madiun. Beberapa SPPG dari kota-kota lain pun mulai menghubunginya. “Saya sedang mempersiapkan lahan hidroponik untuk produksi pakcoy,” ujarnya.

Petani hidropnik, Aditya Dwi Saputra mengalami peningkatan omzet 100 persen setelah memasok sayur ke dapur MBG.
 
Penambahan permintaan sayur dari kebun hidroponiknya sangat disyukuri Aditya. Sebab, saat ini dia bisa mempekerjakan kawan-kawan seusianya. Apalagi kebun hidroponik baru yang sedang disiapkannya juga membutuhkan tenaga kerja tersendiri.

“Untuk pemeliharaan dan pemanenan, sekarang ini ada dua orang yang bekerja di kebun,” ujar petani milenial itu.

Karena itu, Aditya pun berjanji untuk tetap menjaga kualitas produk sayuran segarnya. Sebab, dengan keuntungan yang didapatkannya saat ini saja, dia merasa sudah sangat beruntung.

Dia berharap, dengan patokan harga yang pasti, konsumen akan tetap memilih sayur sehat darinya. “Kalaupun terjadi kenaikan harga, sampai saat ini saya tetap mematok harga sayuran saya Rp 20 ribu per kilogram,” ujarnya.



Konten Terkait

PEMERINTAHAN BGN Investigasi 803 Orang Dilaporkan Keracunan MBG di Grobogan

Badan Gizi Nasional merespons laporan 803 warga di Grobogan diduga keracunan makan bergizi gratis. Investigasi sedang berlangsung saat ini.

Selasa 13-Jan-2026 19:32 WIB

PERISTIWA Terseret dalam Kasus Evia, Oknum Dosen DM Resmi Dinonaktifkan, Terancam Dipecat dari ASN

Unima mengambil langkah tegas terhadap oknum dosen berinisial DAM yang diduga terlibat dalam kasus kekerasan seksual.

Selasa 13-Jan-2026 19:06 WIB

PEMERINTAHAN Hanya 70 SPPG di Kabupaten Malang yang Sudah Kantongi SLHS

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, Wiyanto Wijoyo mengatakan, masih ada 66 SPPG yang sertifikatnya belum diterbitkan.

Senin 29-Dec-2025 20:13 WIB

TREND Petani Milenial Bersyukur Jadi Pemasok Sayur MBG

Sudah tiga tahun Aditya Dwi Saputra merintis pertanian hidroponik di kampungnya. Selama ini, hanya sekitar 7 hingga 8 kilogram selada yang diproduksinya dalam setiap kali panen. Namun sejak diminta menjadi pemasok sayuran ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), omzetnya meningkat 100 persen.

Senin 22-Dec-2025 20:19 WIB

PEMERINTAHAN Program MBG Bisa Jadi Alat Pengendali Harga Pangan

Jangan menyusun menu yang itu-itu saja. Karena pemakaian terus-menerus dalam jumlah banyak bisa memicu lonjakan harga.

Rabu 17-Dec-2025 20:13 WIB

Tulis Komentar