Selasa 29-Nov-2022 22:55 WIB
484
Foto : tempo
brominemedia.com –
Google mengumumkan telah memberikan lisensi model penelitian kecerdasan buatan
(AI) untuk skrining kanker payudara kepada perusahaan teknologi medis iCAD.
Bisa dikatakan, untuk pertama kalinya Google melisensikan teknologi ini, dengan
harapan akan mengarah kepada deteksi kanker payudara dan penilaian risiko yang
lebih akurat.
Menurut manajer komunikasi Google, Nicole Linton, kedua
perusahaan bertujuan menerapkan teknologi dalam pengaturan klinis dunia nyata.
Dan untuk penggunaan komersial, masih harus terus melakukan penelitian dan
pengujian.
Kemitraan ini didasarkan pada proyek Google sebelumnya
meningkatkan deteksi kanker payudara. Pada 2020, peneliti Google menerbitkan
sebuah makalah di Jurnal Nature yang isinya mengungkap bahwa sistem AI yang
dikembangkannya mengungguli beberapa ahli radiologi dalam mengidentifikasi
tanda-tanda kanker payudara.
Model tersebut mengurangi negatif palsu hingga 9,4 persen
dan mengurangi positif palsu hingga 5,7 persen di antara ribuan mammogram yang
dipelajari.
Di sisi lain, iCAD berencana untuk menggabungkan model
penelitian AI mamografi Google ke dalam alat iCAD yang sudah ada. Yang pertama
adalah alat ProFound AI yang menganalisis gambar dari digital breast
tomosynthesis (DBT), teknik pencitraan tingkat lanjut yang kadang disebut
'mamografi 3D'. Alat ini memindai gambar DBT untuk mencari kepadatan dan klasifikasi
jaringan lunak ganas.
Teknologi medis iCAD juga berencana untuk menggunakan model Google dengan alat evaluasi risikonya, yang menurut perusahaan, memberikan perkiraan risiko kanker payudara yang dipersonalisasi untuk setiap orang. Harapannya, AI bisa menjadi alat untuk membantu ahli radiologi dan pasiennya.
Umumnya, ahli medis mendekati AI dengan hati-hati. Ada beberapa contoh dalam penelitian Google pada 2020 ketika ahli radiologi menemukan kanker yang awalnya tidak terlihat oleh model tersebut. Di luar itu, tidak ada standar baku untuk mendiagnosis kanker. Itu mungkin menyulitkan untuk menetapkan garis dasar yang baik saat melatih algoritme.
Jika selama ini hasil alat konvensional adalah "kanker" atau "tanpa kanker", maka alat AI semacam itu membuka opsi ketiga untuk memperhitungkan "diagnosis area abu-abu.”
Penggunaan AI harus tetap dengan adanya dokter. Sebab, jika terlalu mengandalkan AI tanpa melibatkan dokter untuk menilai semua nuansa kesehatan pasien, terutama saat mencoba mendeteksi kanker stadium awal, dapat meningkatkan risiko overdiagnosis.
Secara terpisah, Google mengatakan bekerja sama pula dengan National Health Service (NHS) Inggris dan Imperial College London. Tujuannya, melihat apakah teknologi AI-nya dapat berfungsi sebagai pembaca independen kedua dalam mammogram pembacaan ganda, untuk memungkinkan ahli radiologi fokus pada prioritas tinggi kasus sambil meningkatkan konsistensi dan kualitas skrining.
Konten Terkait
Presiden Prabowo Subianto memberikan sejumlah instruksi kepada Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN), dan koreksi di ...
Selasa 13-Jan-2026 20:07 WIB
Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun menyiapkan lebih dari 48 ribu ton pupuk bersubsidi untuk petani pada tahun 2026.
Selasa 13-Jan-2026 20:06 WIB
Aizzudin menegaskan bahwa pemeriksaannya dilakukan dalam kapasitas pribadi sebagai warga negara, bukan sebagai perwakilan PBNU.
Selasa 13-Jan-2026 20:06 WIB
Hingga saat ini, beberapa wilayah sudah berhasil dinormalkan secara bertahap. Namun, tantangan di lapangan tidaklah mudah.
Senin 12-Jan-2026 20:06 WIB
Begini komentar dari Pelatih Persik Kediri usai timnya dikalahkan Arema FC dalam pertarungan derbi Jatim Super League Indonesia.
Minggu 11-Jan-2026 20:11 WIB






